liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Anak Terlanjur Alami Stunting, Bisakah Diperbaiki? Berikut Penjelasan Dokter

Anak Terlanjur Alami Stunting, Bisakah Diperbaiki? Berikut Penjelasan Dokter

Laporan wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Stunting adalah gangguan perkembangan yang dialami anak akibat kekurangan gizi, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Stunting berpotensi memperlambat perkembangan otak, dengan efek jangka panjang berupa keterbelakangan mental, kemampuan belajar yang rendah, serta risiko penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas.

Baca juga: Pencegahan stunting sebaiknya dilakukan saat masih remaja

Lantas apakah anak yang sudah terlanjur menderita stunting bisa diperbaiki?

Terkait hal tersebut, dokter spesialis anak dr. Annisa Nur aini, Sp.A dari RS Brawijaya memberikan penjelasan.

Menurutnya, 80 persen perkembangan anak terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan.

“Jadi kalau stunting terdeteksi di bawah usia 2 tahun, kita masih punya waktu,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Senin (26/12/2022).

Hanya saja, semakin cepat diketahui, anak bisa mendapatkan penanganan yang lebih baik.

Baca juga: Dikemas dalam bentuk permainan yang menarik, edukasi pencegahan stunting sejak kecil digelar Pengabdian Masyarakat FIK UI

Misalnya, ada anak yang didiagnosis stunting.

Namun, anak pertama didiagnosis pada usia 9 bulan.

Sedangkan yang kedua, baru mengetahuinya saat berusia 18 bulan.

Ilustrasi pencegahan stunting pada anak (Freepik)

“Otomatis, peluang anak untuk mengejar ketertinggalan lebih besar dibandingkan anak yang terdeteksi di usia 9 bulan. Jadi apakah bisa diketemukan? Apa lagi yang bisa dilakukan jika didiagnosa di bawah usia dua tahun,” terangnya. lebih jauh.

Oleh karena itu, pada usia 12 bulan pertama, hampir semua dokter orang tua membawa anaknya melakukan pemeriksaan bulanan.

Baca juga: Tak hanya ibu, ayah juga harus dilibatkan dalam program edukasi stunting

Dalam pengendalian ini, tidak hanya imunisasi. Namun pemeriksaan tumbuh kembang bayi juga akan dilakukan.

“Makanya lebih cepat terdeteksi, lebih cepat penanganannya, lebih cepat bisa diupayakan. Anak tidak terburu-buru menjadi stunting dan bisa lebih meningkatkan IQ-nya,” ujarnya.

Sayangnya, setelah dua tahun tidak banyak yang bisa kami lakukan.

Namun, kata Dr Annisa, optimalisasi tetap dilakukan untuk generasi selanjutnya.

“Targetnya jangan sampai gagal memperbaiki status gizi atau menjadi stunting dalam waktu dua tahun, jangan sampai menjadi remaja putri kurang gizi,” kata dr Annisa lagi.

Tujuan yang dikejar setelah itu adalah memastikan remaja putri tetap sehat dan melanjutkan pola makannya.

Hari Ibu Jadi Momen Momfluencer Ini Berbagi Tips Menu Bekal Sehat untuk Si Kecil Previous post Hari Ibu Jadi Momen Momfluencer Ini Berbagi Tips Menu Bekal Sehat untuk Si Kecil
Warga Kembali Rayakan Natal di Bethlehem Setelah 2 Tahun Lockdown Next post Warga Kembali Rayakan Natal di Bethlehem Setelah 2 Tahun Lockdown